Situasi ekonomi Indonesia saat ini yang sedang lesu dan meningginya nilai kurs Dollar menimbulkan beragam reaksi di antara para pengusaha, khususnya pelaku industri manufaktur. Ada yang terpaksa menambah litani perusahaan yang melakukan lay off karyawan, namun tak kurang juga yang terpicu untuk terus mencari cara pintar berbisnis manufaktur sehingga bisa semakin kuat menghadapi tantangan yang ada.

 

Alih-alih terus berkutat dengan kesan lesu iklim manufaktur, PT Bisnis Sistem Indonesia (PTBSI) mengundang para praktisi manufaktur komponen otomotif untuk membicarakan faktor-faktor kunci pendorong pertumbuhan, profit dan optimalisasi bisnis. Para peserta yang tergabung dalam Executive Forum Automotive Component Manufacturer ini pun kelihatan antusias ketika berdiskusi di Mercantile Athletic Club, Jakarta (8/10).

 

Diskusi dibuka denga penghantar dari Rizaldi Sistiabudi dan Anja Dewanta Sembiring dari PTBSI. Keduanya mengajak para peserta forum untuk berfokus pada pemahaman dan evaluasi atas lima faktor kunci (drivers) dalam dunia manufaktur yaitu: forecasting, planning, costing, reporting, & collaboration. Forum pun menjadi ajang sharing tentang current practices kelima faktor kunci tersebut di perusahaan masing-masing.

 

 

Secara umum para praktisi manufaktur tersebut mengungkapkan bahwa mereka berupaya mencari best practice untuk menjalankan kelima drivers tersebut. Hanya saja belum optimal. Pada bagian forecasting dan costing, misalnya, dirasa perlu untuk menerapkan atau mengaplikasikan sebuah sistem yang bisa membantu proses manufaktur menjadi lebih cepat dan akurat. Selama ini proses tersebut dijalankan secara manual. Pelaporan data stok dari cabang-cabang butuh waktu lama, sehingga sering data di pusat dan di cabang berbeda.

 

“Karenanya, forecasting menjadi kurang akurat. Kita pun jadi kelimpungan untuk membuat analisa Costing yang tepat. Bahkan tidak jarang delay reporting ini membuat board of directors mengundur-undur jadwal meeting. Padahal, banyak keputusan penting yang mesti diambil demi manajemen cashflow yang sehat”, seorang peserta menarasikan situasi yang dihadapinya. Berikutnya anggota forum lain pun mengutarakan kendala yang meraka alami.

 

Di sela diskusi, Mr. Rajeev Ganju, Infor Director Channel Sales ASEAN hadir memberi beberapa masukan. Rajeev kembali mencuatkan pentingnya strategi bisnis yang memperhatikan kebutuhan pelanggan. Antara lain tentang pentingnya product configuration. “Demand dari customer bisa berubah, supplier pun bisa berganti sesuai trend pasar. Pertanyaannya ialah, apakah saya akan tetap membuat produk seperti yang biasa saya lakukan atau justru produk yang akan dibeli oleh pelanggan”, kata Rajeev turut menganimasi jalannya diskusi.

 

Forum tetap berlangsung sebagai sharing platform hingga berakhirnya diskusi. Sebagai penyelenggara acara, PTBSI mencatat ada animo yang kuat dari forum akan pentingnya sistem atau tools yang bisa membantu forum menjalankan proses-proses dari kelima drivers tadi secara lebih baik.

Latest News

Kick-off Infor LN ERP System Implementation at PT Sanoh with PT BSI

PT Sanoh Indonesia is established since 1976. PT Sanoh is mainly supporting the automotive ...

Readmore

Indonesia’s Automotive Industry 4.0 Symposium

 

On the 20th of November 2019, the event Indonesia’s Automotive Industry 4.0 Symposium is held ...

Readmore

Temukan Fakta Unik Natal di Sini!

Readmore

Infor Indonesia Menyelenggarakan Infor Executive Briefing di Jakarta

Pada tanggal 15 November 2017, Infor hadir di Jakarta dalam rangka menyelenggarakan Infor Executive ...

Readmore

Seminar Technology to Uncover The Hidden Values within Your Operation

 

Menanggapi kesuksesan dan antusiasme para peserta terhadap Coaching Seminar “New Technology to ...

Readmore